314 views
Published On: Rab, Nov 9th, 2016

Kisah Ayah Bersama Anaknya Dibalik Aksi 411

10632800_1532325820118202_7247806715433141535_nKarawang, WK – Mohon izin berbagi cerita ringan tentang demo indah 411 kemarin. Cerita dari pendemo di pinggir lapangan. Ceritanya berawal ketika hari Selasa kemarin anak saya yang belum setahun jadi anak SMA itu tiba-tiba bilang ingin ikut demo ke Jakarta. Sebelumnya nyonya juga sudah menyarankan saya untuk ikut. Ia bahkan sudah menggalang dana ke ibu-ibu pengajian, padahal saya masih belum mengiyakan. Masih melihat perkembangan situasi. Anak saya itu bilang kalau ingin berangkat bareng teman-temannya.

“Memang sekolah membolehkan?” Tanya saya penasaran.

“Belum minta izin sih, Yah. Tapi temanku pada kepingin berangkat”. Lha, belum minta izin koq sudah bilang?

Tiba-tiba ada rasa khawatir menyeruak. Bayangan kerusuhan demo, korban berjatuhan, gas air mata, langsung muncul seperti tayangan di layar televisi. Yang jelas anak saya sama-sekali belum pengalaman ikut demo. Dia hanya pernah ikut aksi solidaritas Palestina saat SD dulu. Tapi itu jelas bukan jenis demo yang akan di hadapi tanggal 4 Nopember. Yang terakhir ini adalah demo penuh resiko.

“Sebentar, Nak. Memangnya kenapa kamu ingin berangkat?” Tanya saya dengan nada datar saja, biar rasa khawatir tak kentara.

“Aku kan ingin ikut membela Al Qur’an, Yah. Membela Islam. Lagian kayaknya seru juga ikut demo, hehe” Jawabnya polos. Tuh kan, dia hanya lihat yang serunya saja.

Tapi tiba-tiba saya sadar. Setelah dipikir-pikir, alasan ingin membela Al Qur’an pada anak seusia itu sesuatu sekali. Sesuatu yang benar dan wajar. Ini tentu karena anak ini masih bersih fitrahnya, dosanya masih sedikit. Jadi lebih peka dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Apalagi tiga tahun sebelumnya ia mondok di sebuah pesantren. Selama itu pasti terus-menerus dimotivasi para ustadz di pondok untuk membaca dan menghafal Qur’an. Pasti dinasihatkan bahwa betapa mulainya Al Qur’an. Tentu ia sudah punya persepsi tersendiri terhadap kitab sucinya. Sudah ada ikatan emosional karena tiap hari harus membaca dan menghafal. Astaghfirullah, ternyata saya sendiri yang tidak siap dengan hasil didikannya. Karena dosa yang bertumpuk telah membuat hati ini semakin tumpul. Saya merasa jadi malu pada anak sendiri. Nak, tentu ayah akan berupaya apapun untuk menjaga apa yang sudah kau raih. Memiliki hafalan Qur’an dan kecintaan kepadanya adalah hadiah terindah dari seorang anak kepada ortunya.

“Katanya AL Qurán dimuliakan, koq saat dinistakan malah tidak dibela?” Jawaban apa yang harus saya berikan andai dia bertanya seperti itu.

ayah-idaman4-55db48f2f77e61480573347fMaka tanpa banyak pertimbangan, tanpa berhitung resiko, saya bilang “Nak, Ayah akan ikut demo! Sebaiknya kamu bareng ayah. Biar kita sama-sama teriak di sana. Kita sama-sama bela AL Qur’an!”

“Serius Yah?!” anak saya tercekat, antara heran dan senang.

“Ya, serius dong! Nanti ayah akan cari tahu bareng siapa berangkatnya. Teman-teman kamu juga kalau mau ikut, suruh ajak orang tuanya. Bahaya kalau sendirian. Kalian belum pengalaman” saya menegaskan.

“Yes! Baik, Yah. Nanti aku bilangin ke teman-teman” anak saya berbinar matanya.

Selanjutnya saya cari-cari info adakah yang mengkoordinir untuk daerah Karawang. Alhamdulillah, saling bertukar informasi kini semakin mudah lewat medsos. Di berbagai grup WA berseliweran info aksi demo. Dari lembaga dan ormas yang mengkoordinir, akhirnya saya daftar ke rombongan PUI. Karena kursi masih banyak yang kosong. Ketuanya, Ust. Rohim saya kenal baik karena sering ngisi kajian di perumahan dan kantor-kantor. Rencananya PUI Karawang memberangkatkan dua bus dengan peserta maksimal 100 orang.

Setelah mendaftarkan nama untuk dua orang, selanjutnya menyiapkan beberapa macam kebutuhan selama aksi. Masing-masing peserta diminta membawa tiga botol air mineral, baju ganti, jas hujan, dan bekal makanan sekiranya cukup untuk bertahan satu hari. Tak lupa infaq untuk panitia. Medsos memang memudahkan untuk berkordinasi. Rapat persiapan cukup lihat layar hape. Bahkan penggalangan danapun tidak susah. Saya dapat titipan dari beberapa ibu-ibu pengajian yang titip ke nyonya. Kawan saya yang sedang sakit menitip uang dalam jumlah besar. Bayangkan kawan, betapa yang sakit saja menyempatkan nyumbang! Infak titipan yg saya bawa total dua juta. Padahal saya nggak nawarin siapa-siapa.

Kamis malam, H-1.

Di rumah saya pantau terus lalu lintas berita di medsos. Di luar hujan mengguyur semalaman. Saya pandangi mushaf Al Qur’an yang tergeletak di atas meja makan. Biasanya ia hanya dibaca, kini suasana terasa lain. Besok saya akan membelanya dari penistaan. Bersama saudara-saudara seiman lain. Bersama anak saya sendiri. Begini rupanya rasanya kalau sesuatu yang sakral terusik. Pikiran jadi tidak rasional lagi. Tidak hitung-hitungan lagi. Bagaimana kalau benar-benar terjadi rusuh massal? Berjatuhan korban jiwa? Padahal saya masih punya tanggungan keluarga. Anak-anak saya bagaimana nasibnya kalau saya yang jadi korban? saya jadi rada baper.

Tapi bukankah perjuangan ummat terdahulu seringnya tidak rasional dan nggak bawa perasaan?
Bukankah Perang Badar itu adalah perang “bunuh diri” dan perang antar saudara sendiri, bahkan ada anak berperang dengan ayahnya, karena beda keyakinan. Kalau pake rasio, Nabi Muhammad nggak bakalan melakukan peperangan ini. Perang Badar adalah semata karena perintah Allah.

Lalu bukankah peristiwa-peristiwa peperangan jaman merebut kemerdekaan kita dan mempertahankannya adalah kisah tentang pengorbanan? Hari 10 Nopember hari pahlawan adalah kisah bambu runcing melawan bedil dan meriam? jelas tidak akan bisa dinalar. Itu adalah panggilan suci. Panggilan jihad.

Bukankan perjuangan Cut Nyak Dien juga kalau dari kalkulasi kekuatan akan sulit untuk memang? begitupun Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dan lainnya? Mereka berjuang karena keimanan. Bukan karena materi dan hitung-hitungan untung rugi dan menang-kalah.

Bahkan keberadaan kita juga bukankah karena pengorbanan orang lain? kalau mengikuti perasaan, seorang Ibu tentu tak akan mau melahirkan lagi. Kalau pake hitungan matematika, tentu ayah kita lebih memilih hidup bujangan. Ya, tak semua memang harus mengikuti rasio dan perasaan. Kita hanya perlu yakin, optimis, hati-hati, cermat, waspada, dan berdoá.

Begitulah kekuatan dahsyat spiritual yang sekarang sedang menghampiri, yang dipicu sikap anak saya tadi. Kekuatan itu begitu besar, serasa ada yang mendorong dari dalam dan mendesak keluar tanpa bisa menolaknya.

Hari H, 4 Nopember 2016. Sebakda subuh.

Udara pagi kali ini terasa dingin sekali, ini efek hujan semalam yang rupanya masih berlanjut menjadi gerimis pagi. Mendung tebal terlihat di langit. Melihat awan hitam di langit barat, gambaran demo di bawah guyuran hujan langsung terbayang. “Nggak masalah, Nak. Hujan adalah rahmat Allah yang turun. Tak ada yang perlu ditakutkan. Malah tambah seru demonya. Kita bisa hujan-hujanan bareng. Pasti seru!” jawabku saat anak saya bertanya perihal hujan.

Selepas sholat Subuh itu kami sudah bersiap. Mandi dan sarapan. Saya membawa tas kecil isi mushaf ukuran saku, jaket dan dua botol air mineral 1 liter, sedangkan anak saya membawa tas ransel agak besar. Pukul 05.45 kami berangkat. Memburu jam 06.00 sesuai waktu yang ditetapkan panitia. Jarak waktu dari rumah ke tempat pemberhentian Bis di depan Rumah Makan LSI sekitar sepuluh menit.

Ah, rupanya Allah menguji kami sejak awal berangkat. Saya lupa memperhitungkan kemacetan. Pengalaman sebelumnya, jam segitu masih normal. Ternyata alur kendaraan kawasan industri KIIC sekaligus menuju gerbang tol Karawang Barat sudah padat merayap. Untuk sampai ke lokasi bis di depan LSI jadinya harus memutar dulu mengikuti arus. Itupun harus menyelinap di sela-sela bis dan kendaraan roda empat lainnya.

Setelah lima belas menit berjibaku dengan kemacetan dan menitipkan motor dekat gerbang Selamat Datang Karawang, sampailah di LSI jam 06.05. Lewat lima menit. Di situ tak nampak ada bis. Waduh, alamat ditinggal nih. Di situ ada delapan orang yang berkerumun. Rupanya benar, kami ketinggalan bis. Mereka senasib, ketinggalan juga.

“Sudah berangkat bisnya?” Tanya saya.

“Iya Pak, sepuluh menit lalu. Diminta segera berangkat sama Polisi yang mengawal. Padahal belum penuh. Tadi bareng rombongan Al Irsyad” jawab seorang bapak yang belakangan diketahui bernama Pak Ruly.

Sepuluh menit berlalu tanpa kepastian. Sebelum tiba-tiba seorang bapak yang dari tadi ada di situ berkata “Baik bapak-bapak, kita naik mobil saya saja. Tadi kordinator bus telpon ke saya agar segera menyusul ke rest area 42″. Alhamdulillah, pertolongan Allah begitu cepat. Gak pake lama.

Tak lama tujuh orang ini masuk ke dalam Calya merah yang terlihat masih baru itu. Berdesakan di dalam mobil. Lalu mobilpun segera berlari mengejar bis. Saat di tol kecepatan dipacu hingga 140m/jam . Nekat juga pemilik mobil. Oh, iya bapak yang baik hati itu namanya Pak Puguh. Semoga Allah membalasnya ya Pak. Alhamdulillah, tiba di rest area tepat pukul 06.40, bis rombongan masih menunggu. Kami pun segera bergabung dengan rombongan.

Di dalam bis nampak beberapa saya kenal. Pak Muji langganan saya beli opor ayam ada di situ. Di samping saya seorang kepala sekolah. Ia juga membawa seorang putranya yang sudah kelas tiga SMA. Di kursi depannya duduk seorang mantan anggota dewan. Ada juga seorang direktur perusahaan. Di kursi paling depan ada yang saya kenal baik sekali, tetangga dan sekaligus guru ngaji saya. Tapi beliau tidak memakai atribut apapun. Hanya mengenakan pakaian putih sebagaimana ditentukan panitia. Ada juga Ustadz Ubaid yang duduk di kursi tengah. Ia yang pengasuh sebuah lembaga tahfidz dan tahsin itu terlihat paling khusyuk. Selama perjalanan ia tilawah Qur’an. Sepertinya ia yang paling merasakan luka dengan kasus penistaan ini. Penumpang lain tak sempat saya amati karena dapat kursi belakang.

Komandan regunya bernama Kang Firman. Saya juga kenal dia karena tetanggaan walau beda blok. Dia memang aktivis buruh. Rupanya mudah saja bagi ustadz Rohim yang memang pergaulannya luas itu untuk mendapatkan seorang kordinator lapangan. Ia sering keliling memberi khutbah jumat ke perusahaan yang bertebaran di Karawang. Kang Firman juga pegiat masjid di lingkungannya. Klop sudah.

Saat memberi arahan terlihat benar ia memahami dunia per-demo-an. Ia kemudian membeberkan aturan main saat aksi. Diantaranya, peserta didata satu-satu nama dan nomor HP. Kemudian ditentukan penanggung jawab baris. saya misalnya, jadi penanggung jawab keberadaan rekan di samping saya yang kepala sekolah itu. Aturan lainnya semua anggota rombongan tidak boleh menjauh dari rombongan, apalagi memisahkan diri. Tidak boleh selfie, tapi boleh ngambil foto orang lain. Juga tidak boleh bermedsos ria. Kemudian satu lagi, jam 17.00 semua peserta harus sudah berada di bis karena akan langsung pulang ke Karawang. Diakhiri dengan catatan bahwa semua harus komitmen dan disiplin. Karena ini bukan sedang wisata. Ini adalah sebuah aksi perjuangan dan mengandung resiko tidak kecil.

Saya menghela nafas. Sadar dengan segala resiko kemungkinan yang dihadapi. Karena bila melihat respon ummat terhadap rencana aksi ini. Bisa jadi ini demo terbesar yang pernah ada. Pertanyaannya, bagaimana mengatur massa sebanyak sejuta orang misalnya padahal ini masa cair yang alur komandonya tidak begitu solid seperti polisi atau tentara? Sedikit provokasi saja akan membuat massa bisa chaos. Benar-benar sebuah pertaruhan penuh resiko. Tapi melihat aturan main yang dibuat panitia saya jadi merasa tenang, lagi pula umat Islam sudah biasa teratur saat sholat berjamaah.

Saat memasuki Jakarta saya melihat gedung-gedung pencakar langit dengan rasa yang berbeda. Menara-menara menjulang memang membuat megah dan hebat kota Jakarta ini. Tapi siapa yang punya semua ini? saya justru seperti melihat bayangan wajah Ahok di gedung-gedung mentereng itu. Dia seolah ada di mana-mana. Mereka memang sudah menguasai ekonomi, menguasai lahan-lahan strategis, dan mulai menguasai politik yang mengatur hajat semua orang. Sebenarnya ini tidak begitu mengusik ummat kalau nilai-nilai yang disepakati bernama Pancasila itu dijunjung tinggi. Khususnya tentang sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ummat ini juga tahu diri, mereka yang se-etnis dengan Ahok ini memang dikenal ulet dan sangat menguasai rumus-rumus kapitalisme. Walau kadang bertabrakan dengan rasa keadilan sosial karena faktanya hanya segelintir orang yang pada akhirnya menguasai kapital di negeri ini. Walau juga ada terselip di situ keanehan dalam politik, Ahok dan kekuatan kapital di belakangnya justru didukung oleh kelompok yang paling merasa wong cilik, paling merasa berjiwa marhaen. Padahal kelompok terakhir ini adalah korban dari sepak terjang para kapitalis.

Harus diakui ummat ini memang masih lemah di berbagai sektor. Paska dijajah secara fisik dan ekonomi berabad-abad lamanya. Tapi Ahok memang sudah kelewat batas. Menabrak norma paling dasar : menghormati keyakinan umat beragama lain. Padahal ini dasar yang paling dasar dari berdirinya bangsa ini. Tanpa saling menghormati keyakinan, tak akan ada Indonesia.

Selain ungkapan tak pantas tentang keyakinan orang lain, bahkan tentang agama yang dianutnya sendiri, ditambah sikap-sikapnya yang arogan, gemar melontarkan kata-kata busuk, menantang DPR, Partai politik, BPK, bahkan menantang orang se-Indonesia, Ahok seperti datang dari dunia lain.

Tapi yang paling aku pikirkan, adalah apa jawaban yang aku bisa berikan pada anak-anak saya, juga pada Allah kelak di yaumil hisab, ketika kitab suci ini ada yang menistakan?
Sebelum pukul 9 bis sampai di Monas. Jalanan lancar sampai lokasi aksi, nyaris tidak ada kemacetan. Bis berputar dulu melintas Senen dan parkir di daerah Kwitang, sebelah timur Mako Marinir. Lalu rombongan istrihat dulu, nasi bungkus sudah disiapkan panitia. Pesertapun makan di pinggir jalan. Dilanjut jalan kaki menunuju komplek monas. Rencananya akan Sholat Jumat di lapangan parkir. Rupanya ada masjid kecil di pojok lapangan monas sehingga rombongan diarahkan ke masjid. Kami dapat tempat di dekat kios baju punya orang Madura. Itu terdengar dari obrolan sesama mereka.

Usai jumatan, saya ajak anak saya makan di kios mie ayam. Perut Indonesia saya minta diisi nasi. Nggak mau kalau sekedar roti. Kupesanlah soto kikil betawi. Kuajak makan itu agar anak saya tidak tegang. Tapi sebenarnya justru saya yang agak tegang. Anak saya malah santai saja. Malah kelihatan sudah bersiap untuk aksi selfie dengan background masa yang sedang demo. HP-nya sudah dipasang pada tongsis hasil pinjam ke temannya. Hadeuh, anak sekarang. Narsisnya itu. Bahkan dia sudah nunjukkin salah satu foto selfie dengan latar Monas dan serombongan peserta demo yang di upload di Instagram. “Keren kan, Yah? Tuh yang komen udah banyak, hehe”

Usai makan, kami buru-buru bergabung dengan rombongan di tempat kumpul tadi. Di situ kami diberi ikat kepala berlogo PUI untuk identitas dan agar mudah saling mengenali. Tepat pukul satu siang, rombongan bergerak. Tadinya dikira akan konvoi, rupanya rombongan PUI kebagian berdiam di pinggir jalan dan membuat panggung orasi di situ juga berupa mobil yang dilengkapi soundsystem guna menyambut rombongan yang lewat. Dari situlah saya bisa melihat parade para tokoh bersama rombongannya. Ada Bang Opick, diikuti rombongan Syeikh Ali Jaber, menyusul kemudian ust Arifin Ilham, Habib Rizieq, Fadli Zon, Fahri Hamzah, ust Zaitun Rasmin hingga Rhoma Irama. Setiap rombongan lewat orator dari PUI selalu pimpin ucapan “assalamu ‘alaikum” yang diikuti seluruh anggota kafilah. Tokoh yang berorasi di mobil PUI juga bergantian. Selain ketua umum PUI dan Pemuda PUI, ada juga dari FPI, Ikadi Jawa Timur, Jawa Tengah,jawa Barat, perwakilan dari NTB, juga Aceh.

Praktis saya hanya berdiri. Berdesakkan tak bisa ke mana-mana. Makin lama makin padat dan rapat, duduk saja susah. Semua ikut berdzikir, teriak “Allahu Akbar!” dan “adili Ahok!”. Saya sendiri memilih untuk mematuhi aturan. Tidak menjauh dari rombongan. Juga karena harus mengawasi anak saya itu, khawatir pergi jauh cari foto buat instagram-nya. Inginnya sih dekat dekat ke pusat aksi di bundaran air mancur patung kuda dan depan istana. mendengar orasi dari pemimpi Aksi. Tapi faktor resiko menahan kaki untuk tidak beranjak.

Di tengah-tengah aksi saya penasaran dengan peserta dari daerah yang jauh. Kebetulan saya lihat salah satu orator yang dari Ikadi Jawa Timur sedang duduk di bawah pohon. Sendirian saja beliau. Kuberanikan bertanya, “assalamualaikum Ustadz. Ustadz yang tadi orasi? dari Jawa Timur ya Tadz?”
“Oiya, wa’alaikum salam. Iya Mas, tepatnya dari Jember”
“Masya Allah, jauh juga ya Tadz”
“Ya, alhamdulillah bisa Allah taqdirkan hadir disini. Bisa ketemu Saudara seiman”
“Ustadz punya pesantren?”
“Ya, alhamdulillah… kami diberi amanah mengelola pesantren tahfidz”
“Barokallah, semoga semakin maju Tadz pesantrennya. Oiya, ini saya kenalkan putra saya Tadz, mohon do’anya supaya bisa jadi hafidz”
“Semoga Allah mudahkan untuk menambah hafalannya ya”ujar beliau penuh simpatik. Sejuk rasanya.
“Amiin, terima kasih ustadz” sahut anak saya mencium tangan beliau.

Saya tidak bertanya lebih detail, khawatir dikira intel, hehe. Hanya ingin melihat dari kalangan mana mereka. Kini saya semakin yakin kalau yang datang hari ini adalah mereka yang punya ikatan erat dengan AL Qurán. Punya rasa cemburu ketika ada yang mengusik Al Qurán. Apalagi sekarang bermunculan pesantren-pesantren tahfidz, komunitas baca Qurán, juga ajang lomba tahfidz di TV. Para Hafidz muda mulai jadi idola seperti Hamas Syahid dan Muzammil Hasballah, atau Fatih Seferegic dan Haris J dari luar negeri. Maka sungguh gegabah memang ketika gelombang gairah Al Qurán sedang melanda anak bangsa ini, tetiba keluar omongan yang melewati batas.
Hingga pukul empat sore keadaan tidak berubah. Massa yang menyemut semakin padat merapat ke pusat aksi di air mancur patung kuda dan Istana. Tapi tetap damai dan tidak ada insiden apapun. Udara tetap sejuk hingga sore. Alam seperti tersenyum dengan lautan masa yang ramah ini. Tidak juga terjadi hujan badai sebagaimana diramalkan BMKG. Menjelang akhir acara ini kami baru bisa mulai bergerak menuju bundaran air mancur. Anak saya jadi punya kesempatan leluasa mengambil gambar dan aksi selfie. Kini fotonya tentu lebih dramatis: anak muda berikat kepala dan ber-tas ransel dengan latar belakang lautan demonstran berpakaian putih di antara gedung-gedung menjulang dan Monas.
Pukul lima sore, kami segera menuju bis. Khawatir ditinggal seperti tadi pagi. Rombongan baru berangkat setelah sholat magrib dalam formasi lengkap seperti awal berangkat. Tidak ada insiden apapun. Saya lega karena kekhawatiran saya tidak terjadi. Cara panitia mengelola peserta aksi sungguh luar biasa. Pesertapun patuh dengan aturan yang dibuat. Kami tiba di Karawang, pukul delapan malam setelah menempuh perjalanan yang lancar tanpa kemacetan. Jakarta malam ini lengang. Mungkin warga khawatir peristiwa 1998 terulang sehingga memilih diam di rumah.
Seharian membersamai anak dalam momen aksi seperti ini sungguh tak bisa terlupakan. Terlalu indah untuk dikenang.

Karawang, 4 Nopember 2016

By : A. Ismail Faruq

Komentar