37 views
Published On: Kam, Jan 7th, 2021

Mari Bangun Kejayaan Bangsa Melalui Pendidikan

JAKARTA, WK – Pendidikan diyakini merupakan cara yang sangat strategis untuk membangkitkan peradaban mulia pada sebuah bangsa. Kaitan antara pendidikan dan peradaban ini menjadi tema diskusi daring yang digelar empat organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di pengujung 2020 yang baru lalu.

Keempat ormas Islam itu adalah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Persatuan Islam (Persis), Hidayatullah, dan Wahdah Islamiyah.

Ketua Umum DDII Ustaz Dr Adian Husaini yang hadir dalam forum itu mengatakan, keempat ormas Islam itu memiliki komitmen untuk meneguhkan tujuan bersama, yakni mewujudkan peradaban yang mulia.

Peradaban mulia yang dimaksud adalah yang berazaskan keimanan, akhlak mulia, serta adil dan makmur. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, maka salah satu cara yang ditempuh adalah melalui pendidikan.

“Kami menyadari, jalan dakwah di bidang pendidikan ini sangat strategis untuk melahirkan manusia-manusia unggul, manusia yang bisa menjadi teladan,” ujar Ustaz Adian kepada Republika, Selasa (5/1).

Alasan lain menguatnya cita-cita ini, menurut dia, adalah Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 31 ayat 3. Ayat tersebut berbunyi, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.’’

Namun, Ustaz Adian menyadari, jalan untuk mewujudkan tujuan tersebut tidaklah mudah. Karena itu, diperlukan komitmen yang kuat, ditambah kerja sama dan koordinasi dari empat ormas Islam tersebut untuk mewujudkannya.

Empat ormas Islam tersebut memang memiliki banyak lembaga pendidikan dan punya pengalaman panjang dalam mengelolanya, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, juga pesantren.

“Selama ini sudah berjalan. Nah, sekarang, kita ingin tingkatkan kualitasnya. Kita ingin mewujudkan lembaga pendidikan kita menjadi yang terbaik,” ujarnya.

Terkait tantangan maupun kendala dalam pendidikan di Indonesia, Ustaz Adian menyebut, ada satu hal yang masih tertanam kuat dalam pandangan masyarakat yakni hegemoni dari paham materialisme.

Ia menilai, tujuan duniawi maupun materialisme masih dominan dalam dunia pendidikan kita. Sistem pendidikan di Indonesia masih diarahkan untuk memenuhi hal tersebut. Ia mencontohkan, setiap orang yang menempuh pendidikan bahkan hingga perguruan tinggi tujuannya untuk mencari makan.

“Dalam konsep pendidikan kita, harusnya nggak begitu. Sejak zaman Ki Hajar Dewantara pun, pendidikan kita harusnya diarahkan untuk membentuk orang yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia tadi,” ucap Ustaz Adian.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Persis, Ustaz Jeje Zaenudin mengatakan, Persis senantiasa berkomitmen terhadap dunia pendidikan dari dahulu hingga saat ini. Menurut dia, sejak tahun 1930-an, Persis memelopori sistem pendidikan integral antara materi pelajaran pesantren dengan materi pelajaran umum dalam sebuah cikal bakal pesantren modern yang dinamakan pendis atau pendidikan Islam.

“Dan pada tahun 1936, pesantren Persis pertama didirikan di Pajagalan, Bandung,” kata Ustaz Jeje.

Menurut dia, kemajuan peradaban terwujud dengan pendidikan yang berkualitas. “Kita yakin memajukan  peradaban bangsa itu melalui pendidikan yang baik dan berkualitas yang mengintegrasikan ilmu dan iman, sains dan teknologi,” ujarnya.

Ia juga menekankan, penting bagi anak-anak untuk mengenyam pendidikan keagamaan, beriringan dengan pendidikan dari berbagai bidang ilmu lainnya. Dia mengatakan, pesantren telah terbukti mampu menempa keteguhan mental dan kemandirian anak didik, bahkan lebih kuat dari sistem pendidikan sekolah biasa.

“Apalagi, pesantren-pesantren sekarang dengan kreatif inovatif terus memperbaiki sarana, prasarana, media, dan metodologi pembelajaran yang lebih modern.”

Syed Naquib al-Attas dalam sejumlah karyanya memadankan istilah pendidikan dengan ta’dib. Dia merujuk kepada ayat Alquran addabani rabbi fa ahsana ta’dibi (Tuhanku telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku). Dasar dari pendidikan adalah ilmu yang tertanam di hati dan tercermin dalam kebijaksanaan sikap.

Dengan berilmu, seseorang menjadi tahu hakikat dirinya dan juga Tuhan yang telah menciptakan dirinya. Ilmu di dalam hati menggerakkan dirinya untuk menjaga kelestarian alam, membangun kebersamaan, membantu sesama dan mengokohkan kemanusiaan, dan menjadikan dirinya selalu intim dengan keagamaan. [tim]

Komentar