199 views
Published On: Kam, Sep 29th, 2016

PON Riau, Jabar dan Peristiwa Langka

ponWK – Tadi malam ada peristiwa langka yang saya alami. Usai memberikan materi jurnalisitik di Kalibata, Jakarta Selatan, saya mendengarkan siaran langsung Final Sepakbola PON antara Jabar vs Sulsel melalui radio. Seru dan menegangkan karena pertandingan harus diakhiri dengan adu penalti.

Saya menyebutnya peristiwa langka karena dua hal. Pertama, sudah puluhan tahun tak mengikuti pertandingan sepakbola via radio. Seingat saya terakhir kali pada akhir 1980 an saat masih ada kompetisi perserikatan. Kedua, selama penyelenggaraan PON Jabar ini saya jarang mengikuti perkembagannya. Paling sering hanya membaca berita perolehan medali yang menempatkan Jabar di posisi pertama, jauh mengungguli Jatim dan DKI Jakarta.

Pernah saya menonton berita di Metro TV yang khusus menayangkan soal PON. Tapi anehnya, konten kabarnya penuh dengan kasus kecurangan dan keributan. Ada 3-4 berita tentang itu di awal penayangan, baru kemudian mengabarkan jalannya pertandingan per cabang.

Belakangan ini memang yang kerap terdengar dari PON Jabar adalah soal tidak adanya sportivitas dan keberpihakan tuan rumah. Dimulai dari cuitan Menpora di twitter, lalu berita di media arus utama seperti detik, kompas, metro dll. Berita tersebut makin menjadi-jadi menjelang PON berakhir. Lalu detik pun membuat polling untuk menilai baik atau buruknya pelaksanaan PON Jabar.

Saya tentu saja penasaran dengan ini semua. Benarkah PON Jabar penuh kecurangan?

Untuk menjawab ini harus berdasarkam data dan fakta. Lalu mencari pihak yang tepat untuk memberikan pendapatnya. Dari sinilah maka akan lahir penilaian objektif tanpa ada bias.

Saya pikir, cara paling mudah menilai baik atau buruknya PON kali ini dengan cara membandingkannya dengan PON sebelumnya yang dilaksanakan di Riau pada 2012. Ada data dan fakta menarik dari Ketua Umum KONI Pusat
Tono Suratman.

Salah satu parameter untuk menilai baik buruknya PON adalah dengan melihat jumlah gugatan ke dewan hakim. Menurutnya, pada PON Riau ada 42 gugatan yang masuk ke dewan hakim. Sedangkan di PON Jabar hanya sembilan gugatan.

“Pelanggaran kalau di Riau jumlahnya mencapai 42, sedangkan Jabar hanya sembilan. Ini semua dapat diselesaikan dengan musyawarah. Kalau ada hal yang dilakukan itu bisa diselesaikan dengan baik,” ucapnya.

Tolak ukur suksesnya PON Jabar juga kata Tono bisa dilihat dari pemecahan rekor. Sejauh ini sudah 66 rekor diciptakan dari berbagai cabang olah raga. Rekor itu juga memecahkan rekor PON di Riau 2012 lalu. Rekor pecah didominasi dari cabang renang.

“PON ini kami sangat puas melihat adanya pemecahan prestasi dan rekor nasional yang bermunculan dari atlet remaja, atletik dan cabang lainnya. Sehingga hasil ini bisa jadi bahan pelatnas jangka panjang,” katanya usai menggelar jumpa persnya di Media Centre PON Jabar, di The Trans Luxury Hotel, Rabu (28/9).

Tono juga menyampaikan, komandan kontingen dari gubernur masing-masing provinsi menilai penyelenggaraan PON Jabar mengalami peningkatan dibandingkan PON Riau.

pon2“Dari komandan kontingen, Gubernur di Indonesia yang mengatakan bahwa PON Jabar semakin maju dan terasa marwah persatuannya. Walaupun ada riak-riak , tapi itu merupakan hal yang dimaklumi,” ungkapnya.

Berdasarkan itu, Tono tanpa ragu memberikan nilai 9 atas penyelenggaraan PON Jabar.

“Saya bukan karena saya, sebagai ketua KONI yang ada di sini. Saya melihat segala dinamika yang ada masih dalam batas wajar. Penilaian saya di antara 8,5 sampai sembilan ya,” kata Tono.

Penilaian Tono bisa jadi benar atau salah. Tapi begitulah resiko hidup di zaman ini. Benar dan salah mudah diputar balik. Jahat dan baik hanya soal apa kata media.

Inilah era ketika koruptor bisa dipoles media menjadi orang bersih. Manusia yang baik tiba-tiba dapat disulap menjadi sosok culas. Dan penggusuran bisa ditafsirkan menjadi tindakan manusiawi.

Namun, jika ada di antara kita yang masih terpengaruh dengan suara sumbang soal kecurangan PON Jabar padahal di saat yang sama sudah mengantongi data fakta pembanding, sepertinya saya harus mengalami peristiwa langka untuk kesekian kalinya.

(Penulis: Erwyn Kurniawan)

Komentar