271 views
Published On: Jum, Mei 12th, 2017

Produk Halal Jabar Punya Potensi Besar Dipasarkan di Manca Negara

WhatsApp Image 2017-05-11 at 08.27.41

BEIJING, WK – ‎ Seperti diketahui, Jabar telah meneken empat MoU dengan Guangxi Zhuang, Chongqing, Sichuan, dan Heilongjiang selama sepekan ini.

Dubes Indonesia untuk Tiongkok Soegeng Rahardjo menyarankan Jawa Barat memasarkan produk halal unggulan‎ ke Sichuan. Pasalnya di sana terdapat daerah muslim yang bisa menjadi pangsa pasar produk halal dari Jawa Barat. Hal itu sebagai upaya agar hubungan sister province antara Jabar dan Sichuan semakin kuat.

Diakui dia, Jawa Timur sudah memulai memasarkan produk mereka di Tianjin. Jabar jika berminat bisa‎ menawarkan produk unggulannya di Chengdu.

“Nanti ditawarkan di satu gedung untuk display produk kita. Kalau Jabar mau bisa ke Chengdu juga. Kenapa saya bawa itu ke Sichuan, karena di sana itu ada daerah muslim semua di perbatasan. Sementara itu kan provinsi yang ingin disasar Jabar, produk Jabar yang halal food itu besar potensinya dan belum digarap,” katanya.

Diakui dia, gerakan tersebut sudah lebih dulu dilakukan oleh Malaysia. Namun Jabar belum terlambat karena pangsa pasar masih terbuka.

“Ke depan mungkin bisa diadakan setiap dua tahun sekali, setahun di sini, setahun di Jabar dengan pameran. Mungkin ini bisa dieksplor. Saya lihat Jatim saja yang agresif di Tianjin,” tambahnya.

Dia menambahkan, di Guangxi juga, Bali sudah melakukan hal yang sama.

“Saya rasa yang dilakukan Jabar sekarang, perlu memang dibuat satu tim apa yg diperlukan kita, apa unggulkan kita. Kita belajar. Banyak peluang di sana. Kalau banyak dilakukan, Jabar bakal memiliki banyak keuntungan,”ucap dia.

Selain itu, Jabar bakal mandiri mengembangkan industrinya kedepan.

‎Soegeng pun memberi saran terkait dengan pertanian Jabar terutama dalam mengembangkan tanaman organik karena dalam jangka panjang, masalah asupan tubuh itu akan menarik.

“Jangan hanya kejar satu produksi tapi tidak tahu impactnya. Seperti GMO, bibit yang direkayasa itu ada impact nya,”kata dia.

Yang kedua soal ikan asin, saat ini di Indonesia masih tradisional sementara di Tiongkok sudah menjadi perusahaan, dan packagingnya modern. [rilis]

Komentar