206 views
Published On: Sel, Mei 9th, 2017

Sister Province Berpeluang Dongkrak Investasi Asing di Jabar

WhatsApp Image 2017-05-08 at 11.42.08

CHONGQING, WK – Sederetan kerja sama Sister Province yang dijalin Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan provinsi di Negara lain termasuk empat Mou Sister Province di Tiongkok kali ini berpotensi mendongkrak jumlah investasi asing di Jawa Barat.

Kepala Dinas‎ Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jawa Barat Dadang Mohamad Ma’soem mengatakan, meski saat ini nilai investasi dari‎ keempat provinsi tersebut belum bisa ditaksir, namun peluang para pengusaha asal Tiongkok ke Jabar itu cukup terbuka. Terlebih saat ini saya, nilai investasi Tiongkok di Jabar Rp 6,4 triliun atau 465 juta dollar selama tahun 2016.

“Itu termasuk Hongkong. Jika dijumlahkan, jumlah penanaman modal asing dari Tiongkok itu berada pada urutan ketiga teratas setelah Jepang dan Singapura di Jabar,” kata Dadang di Chongqing, Tiongkok, Senin (8/5/2017).

Menurut dia, dengan adanya pemodal asing dari Tiongkok yang sudah ada di Jabar kali ini, hal itu merupakan bagian dari promosi kepada calon-calon investor yang ada di empat provinsi di Tiongkok tersebut. Pasalnya, sudah banyak investor asal Tiongkok yang percaya menanamkan modal mereka di Jabar.

Lebih jauh, Dadang mengatakan, ‎Jabar selalu menjadi nomor satu dalam kumulatif penamaman modal dalam negeri ditambang penamaman modal asing. Dalam realiasasi investasi Jabar pada periode triwulan I (Januari hingga Maret) Jabar sudah mencapai 17,7 persen (Rp 29,3 triliun) di atas DKI Jakarta yang hanya 11,6 persen (Rp 24,2 triliun), dan Jawa Timur yang hanya 7,6 persen (Rp12,6 triliun).

“Dengan prosentase tersebut Jabar telah mencapai 28,17 persen dari target yang telah ditetapkan pemerintah pusat 2017 sebesar Rp 104 triliun),”kata dia.

WhatsApp Image 2017-05-08 at 18.33.59

Selain itu, pada penamaman modal asing (PMA) Jabar pun menjadi nomor satu. Disusul DKI dan Papua pada urutan ketiga. Pada triwulan pertama PMA‎ sudah mencapai 1,5 miliar US Dollar, sementara DKI Jakarta hanya 0,9 miliar US Dollar, dan Papua ‎0,6 miliar dollar US.

“Kebanyakan investasi dalam manufaktur dan industri logam,”kata dia.

Dadang menambahkan, banyaknya asing yang percaya menanamkan modal ke Jabar dikarenakan Jabar sangat kondusif dengan kemanan dan kenyamanannya.

“Kita harus jaga itu dan kami pun senantiasa melakukan inovasi. Di antaranya pengurusan izin selama tiga jam yang sudah berjalan. Dan itu juga bagian dari promosi kami agar investor tertarik menanamkan modal di Jabar,”ujar dia. [rilis]

Komentar